Seorang filsafat terbesar dunia, Aristoteles (384 SM – 322 SM), mengemukakan bahwa manusia ialah homo socius. Secara sederhana, Aristoteles mendefinisikan istilah homo socius sebagai makhluk yang tidak dapat bertahan hidup tanpa bantuan makhluk lain. Artinya, manusia harus berhubungan satu sama lain. Hubungan yang dimaksud ialah hubungan sosial, yang tidak hanya terikat garis keturunan dan tempat tinggal yang sama. Pendapat ini masih diyakini mutlak kebenarannya dan dijadikan pedoman oleh manusia untuk tetap dapat bertahan hidup. Kerjasama yang harmonis antar umat manusia akan membuat kehidupan umat manusia berjalan harmonis pula.

Era globalisasi telah menimbulkan masalah kehidupan yang dihadapi oleh manusia semakin kompleks sehingga setiap negara di dunia, baik negara maju maupun berkembang, wajib untuk melakukan kerjasama satu sama lain. Sebagai negara yang kaya akan sumber daya alam namun miskin dalam ilmu pengetahuan dan teknologi, Indonesia dituntut untuk mengadakan hubungan internasional dengan negara lain dengan baik.

Hubungan internasional menurut buku Rencana Strategi Pelaksanaan Politik Luar Negeri RI (Renstra), adalah hubungan antarbangsa dalam segala aspeknya yang dilakukan oleh suatu negara guna mencapai kepentingan nasional negara tersebut. Sebagai negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia, Indonesia diharapkan mampu membina hubungan yang baik dengan negara-negara Islam lainnya salah satunya Kerajaan Maroko. Membahas hubungan bilateral dan diplomatik Republik Indonesia dan Kerajaan Maroko seolah kita akan menarik benang merah persahabatan kedua negara lebih dari 50 tahun silam. RI dan Maroko, negara yang berpenduduk mayoritas muslm melakukan hubungan diplomatik saat kedua negara masih dianggap ’bayi’ di kalangan hubungan internasional. Indonesia dan Maroko dapat memposisikan diri sebagai balancing, yaitu beraliansi untuk melawan yang lebih hebat, tidak dinafikkan lagi pada saat ini Indonesia dan Maroko merupakan negara berkembang yang membangun ekonomi, sosial, dan politiknya agar dapat menyandang status negara maju.


Budaya: KTP Suatu Negara

Kebudayaan merupakan identitas dari suatu negara. Bila diibaratkan, budaya ialah Kartu Tanda Pengenal yang dimiliki suatu negara. Suatu negara dapat dikenal dan dipandang bila memiliki ciri khas tertentu: budaya. Dapat dipastikan bahwa setiap negara di belahan dunia memiliki adat istiadat, kebiasaan, tradisi, maupun kesenian endemik yang berbeda. Indonesia yang memiliki 1.128 suku bangsa dan 750 bahasa daerah sudah dapat dikategorikan sebagai negara ragam budaya. Tak jauh berbeda dengan sahabat lamanya, Kerajaan Maroko. Masih melekat di ingatan penulis saat Duta Besar Maroko untuk Indonesia, Mohammed Majdi, mengemukakan bahwa Indonesia dan Maroko memiliki budaya yang mirip dalam acara Mingguan ’Menu Venue’ di Stasiun Televisi ’Metro TV’. Tidak hanya sebatas budaya, bahasa sehari-hari yang digunakan di Indonesia pun tidak jauh berbeda dengan bahasa keseharian penduduk Maroko. Banyak kata serapan asing di Indonesia yang berasal dari Maroko.

Dengan bermodalkan kemiripan tersebut, tidak akan sulit bagi kedua negara untuk saling menjalin kerjasama dalam bidang kebudayaan. Sebagai negara muslim yang besar, RI dan Maroko menjunjung tinggi nilai keramah-tamahan. Indonesia yang telah terkenal dengan keramah-tamahannya sejak dahulu, tentu mendapat keuntungan, baik secara langsung maupun tidak langsung, bila menjalin kerja sama khususnya di bidang kebudayaan dengan Maroko dan begitu pula sebaliknya. RI dan Maroko dapat saling bertukar pikiran serta pandangan mengenai kebudayaan satu sama lain. Dalam konteks ini, Indonesia dan Maroko tidak serta merta memberi anggukan tanda setuju dalam berbagi informasi. Kedua negara dapat melakukan filterisasi kebudayaan. Kebudayaan yang dianggap sesuai dan dapat diterima oleh masyarakat luas layak untuk diadaptasi sedangkan kebudayaan yang dianggap kurang sesuai dengan kebudayaan asli masing-masing negara dapat ditinggalkan maupun diakulturasikan dengan kebudayaan asli masing-masing negara.

Barter Kuliner Indonesia-Maroko
Bentuk kebudayaan pertama yang dapat di bagikan oleh Indobesia dan Maroko satu sama lain ialah masakan tradisional. Kuliner Maroko yang kaya kandungan rempah-rempah penggoyang lidah akan dapat diterima dengan baik oleh masyarakat Indonesia karena selera masyarakat Indonesia yang rata-rata menyukai masakan pedas. Beberapa makanan tradisional khas Maroko yang sudah mendunia seperti lamb biryani, chicken korma umm ali, pastilla, dan tajine dapat menambah variasi kuliner Indonesia. Mayoritas restoran-restoran di hotel-hotel besar di Indonesia hanya menyajikan masakan khas Maroko pada saat bulan Ramadhan. Tidak sedikit masyarakat Indonesia yang mencintai kuliner khas Maroko. Hal ini dapat dilihat pada restoran-restoran penyedia masakan Maroko yang ramai pengunjung saat bulan Ramadhan. Alangkah baiknya bila kuliner khas Maroko tidak hanya disajikan pada bulan Ramadhan saja, sehingga masyarakat Indonesia dapat menikmati kuliner khas Maroko setiap saat.

Tidak hanya Maroko yang dapat memperkenalkan masakan tradisionalnya di Indonesia. Indonesia yang terkenal dengan sate, rendang, mpek-mpek, dan nasi goreng juga dapat memperkenalkan kuliner khas nusantara di Maroko. Menurut pandangan pribadi penulis, proses perkenalan kuliner Indonesia di Maroko tidaklah sulit bila kuliner Maroko dapat diterima oleh masyarakat Indonesia. Masakan-masakan yang menggunakan daging sapi dan rempah-rempah seperti rendang akan dapat menjadi cita rasa yang baru bagi rakyat Maroko yang umumnya menggunakan daging domba sebagai bahan utamanya.

Masakan Maroko yang hampir kembar dalam soal rasa dengan masakan Indonesia dengan nilai ekonomis yang tinggi juga dapat dimasak oleh orang-orang awam sekalipun. Hal ini terbukti saat peserta reality show ’Masterchef Indonesia’ mampu menyelesaikan tiga masakan Maroko yang belum pernah mereka masak sebelumnya dalam waktu kurang dari dua jam. Artinya, masyarakat Indonesia tidak hanya mampu memakan masakan Maroko di restoran-restoran, namun mampu memasaknya sendiri.

Filosofis Arsitektur Hexagonal dan Penerapannya
Salah seorang ilmuwan Jepang, Dr. Masuru Emoto, sempat menjadi fenomenal setelah mengungkapkan hasil temuannya pada seluruh dunia bahwa molekul-molekul pada air akan berubah bentuk menjadi kristal hexagonal nan cantik bila diperdengarkan doa-doa, musik klasik, maupun harapan. Bila ditinjau dari segi filosofisnya, hexagonal (enam sisi) dapat digambarkan sebagai suatu keindahan, keajaiban, dan harapan banyak orang.

Tentu kita semua mengetahui bahwa ciri khas arstektur Kerajaan Maroko ialah bangunan dengan enam sisinya. Selain memiliki nilai estetika tersendiri, bangunan segi enam dapat membawa aura positif bagi penghuninya bila kita kaitkan dengan filosofis kristal air di atas. Tidak hanya sebatas keuntungan tak tampak, bangunan segi enam juga diyakini dapat menjadi solusi sempitnya lahan tempat tinggal di Indonesia. Namun, perlu diperhatikan juga bentuk lahan semula yang kita miliki. Bangunan hexagonal dapat memperluas lahan yang fungsinya sebagai halaman rumah.

Penulis meyakini bahwa desain hexagonal juga dapat diterapkan dalam membangun kantor-kantor, hotel, apartemen, maupun tempat-tempat umum lainnya. Dewasa ini, perusahaan developer berlomba-lomba menawarkan produk hunian yang berkiblat pada desain-desain negara Eropa serta minimalis tropis ala Amerika. Penulis berpendapat bahwa desain hotel, kantor, dan apartemen yang sedikit mengimitasi desain hexagonal ala Maroko dapat menjadi inspirasi dan angin segar bagi dunia arsitektur Indonesia.

Penutup
Hubungan bilateral tidak dapat dipisahkan dengan pengembangan kebudayaan antar kedua negara yang bersangkutan. Indonesia memiliki kebudayaan yang sangat unik dan beragam begitu pula Maroko yang kental dengan adat istiadatnya. Peluang barter budaya bisa dijadikan sebagai making peace di antara kedua negara dan ini akan menjadi salah satu icon bagi negara-negara lain. Sehingga, kerjasama ini diharapkan akan membawa domino effect pada hubungan multilateral. Bukankah kebudayaan bisa berseru ’Selamat Datang!’ pada aspek-aspek lain dalam hubungan internasional?

Daftar Pustaka
Budiyanto, 2007. Pendidikan Kewarganegaraan Untuk SMA Kelas XI. Erlangga: Jakarta.
http://www.griya-asri.com/category/liputan-utama/page/2/
http://www.magicmorocco.com/morocco_food/
http://www.realt5000.com.ua/news/utf/id/334177/
http://www.sahabatmaroko.com/index.php?option=com_content&view=article&id=214:mengesankan-kekayaan-kebudayaan-maroko-&catid=41:budaya-pariwisata

Advertisements